Sayangku,
Aku tidak melakukan apapun selain mundur dan menonton saja,
setelah itu, yang ku lakukan mencoba melangkah maju kedepan walau dengan isak tangis yang luar biasa,
lalu berusaha untuk tidak takut
walau sebenarnya semakin hari banyak ketakutan yang ternyata dapat aku hadapi,
benar, satu persatu aku lewati,
tidak dapat ku cegah sama sekali,
Demi Tuhan dengan dunia dan segala isinya,
aku ikhlas sayangku,
walau tak ku sangka bahwa menuju keikhlasan harus sesakit ini sayangku,
perih rasanya, seperti banyak luka namun tak ada setetespun darah
dari aku mempertanyakan, mengapa cintamu begitu besar tapi tidak pernah benar?
sampai tiada lagi yang ingin ku tanyakan, sayangku,
beberapa bulan ini adalah neraka bagiku,
bagaimana kamu dapat terbiasa dengan hidupmu yang tanpaku setelah lebih dari lima tahun aku berlabuh padamu sayangku?
tiada henti aku bermunajat agar setidaknya aku keluar dari rasa sakit dan muram ini,
katamu suara tawaku bagus kan? sudah lama sekali aku tidak tertawa sayangku,
Namun sayangku,
aku mulai bosan dengan perasaan sedih ini,
aku seperti sudah cukup mendengar lantunan kesedihan yang ku suarakan untukmu dihadapan Tuhanku,
Sayangku, tulisan ini adalah yang paling terakhir aku tujukan untukmu,
tiada lagi setelah ini, bersama surat dan bunga terakhir yang kamu berikan kepadaku,
Akmalku,
sehabis ini, apabila pria lain meminangku,
maka cintamu adalah cerita lain yang tak perlu lagi ku kenang walau ia akan terus ada disana,
di dalam relung hatiku entah dimana, karena tak kan ku cari lagi,
akmalku, sayangku,
Comments
Post a Comment