Skip to main content

Featured

Kamis Malam Itu,

Kamis malam itu, saat pertama kali kita bertemu,  aku sedang tidak mencari cinta, malah aku sedang melarikan diri darinya ah sudahlah nanti saja, tangisku tak mampu ku bendung, begitu banyak cinta yang ku rasa, sebanyak yang kamu beri padaku nanti kulanjutkan

Bendera Putih

Ku rasa aku sudah menjadi prajurit yang baik,

mengencangkan sabukku, dan kembali bertarung

walau beberapa bagian tubuhku terluka


Sebelum perang ini berlangsung, 

aku masih menyimpan luka pada jantungku yang sebenarnya masih diperban, 

tapi karena baju perangku lumayan kokoh, maka ku pikir tidak akan terluka lagi,


Nyatanya,

tiada yang benar benar luka setelah itu walau ku lihat kaki dan tanganku lumayan lecet, 

maksudku, itu sakit namun tak berdarah, 

benar, baju perangku sudah cukup kuat rupanya, 


Maksudku, pesonamu dalam berperang, 

menghanyutkanku, walau sampai nuraniku berkata untuk mundur, 

bahkan terus ku lambungkan senjataku untuk menujumu, 


Sampai tiba hari ini, 

yang ku lakukan, 

melepaskan sepatu perangku, membiarkanmu melihat beberapa luka pada kakiku,

kemudian, ku lepaskan juga baju perangku, membiarkanmu melihat luka dalam pada poros jantungku yang bahkan masih diperban,

terakhir yang ku lakukan melepas topengku, 

membiarkanmu melihat luka lagi pada beberapa bagian wajahku, sampai, jatuhnya air mataku, 


Paling terakhir,

aku membungkuk, 

menjatuhkan senjataku, 

tidak ku lucuti dirimu walau ku bisa, 

melainkan berjalan mundur sambil terus menatap wajahmu dengan nanar,

kelamaan nyatamu semakin kabur, karena air mataku terus mengucur,

membasahi pipiku, bahkan perih pada luka ku tak berasa lagi


dan yang paling terakhir dari yang terakhir adalah,

membalikan tubuhku, lalu berjalan, kemudian berlari kencang darimu,

dan mengibarkan bendera putih,

Comments