Aku bisa merasakan kemarahannya,
Aku juga bisa merasakan kesedihannya,
bagaimana tidak?
Dia adikku.
Tapi tetap saja,
yang ia bicarakan salah,
maksudku,
ia selalu salah dalam memilih kata yang ingin ia lontarkan.
Ia bercerita,
tentang perempuan yang menghina dan mempermalukannya depan banyak orang,
lalu adikku menghampiri perempuan itu dan melakukan hal yang sama,
sungguh ia berani, tapi aku tidak.
Saat itu,
aku bertengkar dengan teman-temanku,
sampai tiada kata yang bisa terucap dariku,
tapi dia berdiri didepanku, dan melontarkan kata-kata yang membuatnya puas,
agar aku tidak sakit hati lagi.
Sungguh, adikku berani.
Tidak seperti kakaknya, yang cupu.
Sungguh, aku sebal dengan adikku,
tapi ia adikku.
aku sayang adikku.
Comments
Post a Comment