Skip to main content

Featured

Kamis Malam Itu,

Kamis malam itu, saat pertama kali kita bertemu,  aku sedang tidak mencari cinta, malah aku sedang melarikan diri darinya ah sudahlah nanti saja, tangisku tak mampu ku bendung, begitu banyak cinta yang ku rasa, sebanyak yang kamu beri padaku nanti kulanjutkan

Bayangan

Ku pikir aku nyata,
berdiri didepan lalu memelukmu.
Ternyata aku hanya sekelibat bayangan saja,
yang tidak bisa disentuh.

Aku adalah bayangan,
yang hitam, makanya tidak pernah kamu lihat.
Aku adalah bayangan,
yang lari, makanya tidak pernah kamu tangkap.

Ku ternyata hanya semu,
berdiri didepan namun tidak memelukmu.
Ternyata bukan aku yang tidak bisa menggapaimu,
tapi kamu yang pernah memaksa memelukku.

Aku adalah bayangan,
yang bodoh, makanya aku menuliskan kadaluarsa sendiri pada bungkus rokokmu.
Aku adalah bayangan,
yang bersalah, makanya aku membiarkan kepalaku bersandar di bahu mu lagi.

Bayangan memang tidak bisa memilih,
siapa yang dia ikuti.

Makanya, bayangan mulai lelah.
Kini ia berlari lagi.
Entah kemana, yang penting ia berlari.

Tidak ingin mengingat kedatangannya lagi.

Perih, lukanya.
Kemudian bayangan itu meneteskan air mata, lalu tersenyum.

Bayangan tidak pernah menangis.

Comments