Ku pikir aku nyata,
berdiri didepan lalu memelukmu.
Ternyata aku hanya sekelibat bayangan saja,
yang tidak bisa disentuh.
Aku adalah bayangan,
yang hitam, makanya tidak pernah kamu lihat.
Aku adalah bayangan,
yang lari, makanya tidak pernah kamu tangkap.
Ku ternyata hanya semu,
berdiri didepan namun tidak memelukmu.
Ternyata bukan aku yang tidak bisa menggapaimu,
tapi kamu yang pernah memaksa memelukku.
Aku adalah bayangan,
yang bodoh, makanya aku menuliskan kadaluarsa sendiri pada bungkus rokokmu.
Aku adalah bayangan,
yang bersalah, makanya aku membiarkan kepalaku bersandar di bahu mu lagi.
Bayangan memang tidak bisa memilih,
siapa yang dia ikuti.
Makanya, bayangan mulai lelah.
Kini ia berlari lagi.
Entah kemana, yang penting ia berlari.
Tidak ingin mengingat kedatangannya lagi.
Perih, lukanya.
Kemudian bayangan itu meneteskan air mata, lalu tersenyum.
Bayangan tidak pernah menangis.
Comments
Post a Comment