Skip to main content

Featured

Kamis Malam Itu,

Kamis malam itu, saat pertama kali kita bertemu,  aku sedang tidak mencari cinta, malah aku sedang melarikan diri darinya ah sudahlah nanti saja, tangisku tak mampu ku bendung, begitu banyak cinta yang ku rasa, sebanyak yang kamu beri padaku nanti kulanjutkan

Benar, penuh cinta

Benar, 

waktu membenahi semuanya, menjadikan beberapa masa emas tampak begitu kusam, seperti tidak pernah ada yang datang lagi untuk sekedar menikmati apalagi membersihkan kilauannya, 

entah debu adalah kawan atau musuh, semuanya tampak sirna, seperti hilang walau nyatanya hanya memudar, 

Saat aku menulis ini, seperti aku sepuluh tahun lebih tua dari usiaku sekarang, padahal belum ada dua tahun termakan, tapi yang tadinya aku begitu keras menggumamkan namamu pada Tuhan, walau hanya mimpi sekali saja melihatmu, bahkan hanya tawa yang ku kobarkan, 

beberapa kali aku memimpikanmu, namun itu biasa saja, ku anggap sebagai bunga tidur, bukan pertanda, tidurku sudah nyenyak, membayangkannya tidak lagi sedih atau marah, yang terasa hanya...... biasa saja?

mungkin biasa saja, terlalu naif, namun apalagi? 

tak terasa? apakah itu tepat?

Bahkan,

aku merasa berdosa membicarakanmu saat ini,

kali ini bukan karena diriku, melainkan karena pria yang bersamaku selama setahun lebih ini begitu, luar biasa, sampai, aku bisa membicarakannya dalam seribu satu kata, 

mungkin seribu satu kata, terlalu naif, namun apalagi?

begitu hangat? teduh? tenang? aman? atau cinta?

Kuras saja semua rasaku, seperti sebuah pelita, namun tak ada yang tahu hal ini kecuali Tuhan ku, karena hanya pada-Nya saat ini aku berharap, bahkan mendoakan dan bersuka cita pada seseorang pun melewatiNya, tak luput, 

Nampaknya, 

salah satu doamu bisa saja sampai, karena aku merasakannya, seperti katamu yang akan mendoakanku dari kejauhan, ku sungguh, berterimakasih, namun, simpan saja semua doa itu, tak bermaksud apapun, hanya saja, doakan dirimu dan ketenangan jiwamu juga orang-orang yang ada disekitarmu itu,

sudah ku maafkan, namun maaf jika beberapa hal belum bisa ku lupa, kemungkinan hal-hal pahit yang menumbuhkan trauma mendalam, 

Menerimaku, 

yang dilakukan priaku, dalam keadaan tidak utuh, ia tetap menyanjungku, 

Benar, 

aku akan meneruskan ini, di jalan ini, jalan yang tadinya tidak ingin ku pilih, sambil memelukku, erat, hangat, sekali lagi, teduh, tenang, aman dan penuh cinta 


<3

Comments