Oh,
ternyata kamu tidak seburuk yang ku pikir.
Ya, kamu cukup buruk.
Tapi tidak benar-benar buruk.
Tenang saja,
aku juga buruk.
Keburukkan ku yang kalau tidak diubah kelamaan bisa membuatku gila.
Jadi,
bagaimana rasanya marah?
Marah yang membuatku melempar barang,
memecahkan kaca, atau yang paling sederhana...
Cukup berteriak.
Aku ingin sesekali marah yang seperti itu.
Walau pada akhirnya membuatku menyesal karena merasa seperti orang tak waras.
Jadi,
bagaimana rasanya teduh?
Teduh yang membuatmu mengangguk seolah menjadi bagian dari orang lain,
merendahkan nada bicara, atau yang paling sederhana...
Cukup tersenyum.
Aku ingin sekali melihatmu yang seperti itu.
Walau pada akhirnya membuatmu menyesal karena ingin segera meninju dinding keras-keras.
Oh,
ternyata kamu tidak seburuk yang ku pikir.
Karena hatimu tidak sekeras yang dikatakan kebanyakan orang.
Buktinya, kamu dapat menangis tersedu sambil beberapa kali terlihat sulit mencari oksigen untuk kembali menangis.
Tenang saja,
aku juga tidak selembut yang kamu pikir.
Karena butuh waktu yang lama bagiku untuk menangis akhirnya,
menangis memalukan bagiku.
Lalu,
bagian mana lagi yang harus ku tahu dari hidupmu?
Karena banyak sekali bagian yang sama ku temukan,
tapi tak kalah bagian yang bahkan dari kejauhan saja sudah terlihat berbeda,
Begitupun kamu,
Ya kan?
Iya please...
Comments
Post a Comment