Pisaunya menusuk sangat tajam,
aku bahkan takut untuk melepasnya walau perlahan.
Aku tak pernah mengenal air mata,
sampai akhirnya ia yang menjadi teman ku.
Kepada siapa aku berbicara,
siapa lagi, selain Tuhan ku.
Karena tidak ada yang mencoba menghentikkanku,
sampai aku mengingat NYA...
Aku tak pernah mengenal cinta,
selain dari keluarga dan sahabat ku...
Maka aku bersyukur saat mengingat,
aku masih memiliki mereka
Dan, jari tengah...
bagi orang-orang yang telah meninggallkan ku
pada saat aku sedang berada di masa paling bawah
mereka tak lebih dari setan yang berkeliaran di muka bumi ini
Rasa sakit dan kehilangan orang-orang itu seketika hilang,
uluran tangan mereka ternyata hanya untuk menarikkku lebih tinggi,
lalu menjatuhkan ku sampai ke dasar laut...
begitu cara kerja mereka rupanya.....
Mereka pikir,
aku gentar?
TIDAK.
Bahkan aku masih tersenyum...
sambil berjalan di tumpukan kerikil ini...
Walau...
Aku butuh,
semuanya untuk berhenti.
Comments
Post a Comment