Dari : Temanku, si Penelisik pembenci hujan
Tangerang, 02-17
Bertiupkan angin malam di kota penyanggah,
ku mulai merebah.
Lampu kamarku yang menerangi,
ku buat dia mati,
Tinggal lah urusan kamar dan kasurku untuk menjamah,
membujuk diri yang sudah lelah.
Dan seketika ku gelisah,
ku menelan ludah.
Serasa tak puas,
ku ambil air segelas tuk mengalirkan ketenangan.
dalam kerongkongan.
Namun hanya melamun,
ku masih terbangun.
Tak bisa masuk ke alam yang tak nyata,
walau kelopak mata sudah menyembunyikan matanya.
Seketika juga ku tertawa,
diiringi airmata...
Rupanya ku sedang teringat bahwa:
Kau sudah melarikan diri tuk menjauh pergi,
namun kau tetap disini,
mengganggu setiap malam seperti ini.
Comments
Post a Comment