Kamu suka berjalan dibawah malam,
walau bulan tidak terlihat, pun bintang.
"sejuk", jelasmu. Aku hanya tergumam.
Berharap segera menemukan cahaya, karena aku tak tenang.
Kamu lalu menghela napas berulang kali,
dahiku mengernyit, "ada apalagi?,
kamu menggeleng, tersenyum sesekali.
Lalu berharap agar tidak cepat pagi.
Kamu menggenggam tanganku.
Dahiku mengernyit kembali.
"seberapa besar cintamu?",
aku tertawa geli dan memukul bahumu.
"sebesar bumi ini" jawabku asal.
"Kenapa bumi?" tanyamu.
"Karena besar"
"Bumi ini akan hancur--" kamu menghela napas. "jadi cintamu akan hancur" lanjutmu.
Aku merasa bersalah.
Tidak pernah terpikirkan itu.
"kamu sebesar apa?" tanyaku penasaran.
Berharap kamu menjawab sebesar antero jagat raya ini, dan aku akan bilang, bahkan bimasakti saja akan hancur.
"Yang tidak pernah habis dan selalu menyejukkan--"
"Apa?"
"Udara"
jawabmu.
Comments
Post a Comment