Kita sedang berada didalam sebuah perlombaan,
lomba "Siapa yang terlihat paling tidak peduli".
Dan yang ku lihat, kamu menganggap ini semua terlalu serius.
Perlombaan ini terlihat seperti perang bagimu.
Kamu tengah siap dengan senjatamu,
sambil memasang wajah yang belum pernah ku lihat sebelumnya.
Sedangkan aku?
berusaha tetap tersenyum lalu menjatuhkan senjataku.
Aku tidak berpikir bahwa kamu berpikir bahwa aku menyerah.
Karena jika memang iya, kamu benar, aku tidak menyerah.
Hanya berusaha bijaksana saja.
Dan menyadari bahwa perlombaan ini sungguh menyiksa.
Lalu, saat ini kita masih tetap berbicara walau dengan jarak.
Jika itu yang terbaik untuk saat ini maka aku hanya ingin kita menyudahi perlombaan ini.
Sebelum kamu menerjangku dengan peluru,
perlahan ini semua tetap membunuh.
Nyatanya, kamu tidak akan pernah ingin melakukan hal yang membuatku sedih.
Kamu masih menggenggam senjatamu, sedangkan senjataku tengah jatuh diatas jalan pada lingkaran yang pernah kita buat.
Tapi aku mundur selangkah, memasang wajah bahwa aku tak aman.
Bukan, bukan karena takut padamu.
Aku hanya tidak melihat dirimu yang sebelumnya ku ketahui, sambil menerka, siapa orang yang sekarang sedang berdiri didepanku.
Kemudian aku mengeluarkan granat dari dalam saku ku.
Tenang saja, tidak akan aku lepaskan pelatuknya.
Karena kita masih berdiri dalam benteng kita.
Dan tidak ada jalan keluar.
Kecuali, jika kamu memilih untuk menghentikan perlombaan ini.
Atau aku keluar dari segala hal yang berhubungan dengan ini semua.
Tapi itu hanya membuat kita terlihat seperti tidak sportif pada perlombaan yang sebenarnya baru saja dimulai.
Maka, jika memang yang kemarin terjadi berarti,
seharusnya kita dengan mudah tidak melanjutkan perlombaan ini.
Namun rupanya, kemarin begitu berarti bagimu...
dan pastinya bagiku....
Jadi, ya sudah,
kita lanjutkan saja perlombaannya,
lomba "Siapa yang terlihat paling tidak peduli"
Tapi....
tetap profesional yah?
Promise dua jari?
Comments
Post a Comment