Dia terlalu
lembut.
Dia terlalu
indah.
Keindahan
itu yang membuatnya menghadapi banyak cobaan.
Terkadang
dia menangis, tetapi sayang...
Tangisannya
tidak akan pernah bisa didengar oleh siapapun.
Kelembutan
itu pula yang membuat dia terkadang harus dilatih menjadi lebih keras.
Aku baru
sadar, bahwa sebenarnya "dia" itu tidak akan pernah bisa untuk
dipaksakan.
Aku juga
baru sadar, bahwa kehidupan orang dewasa ini tidak seperti segumpal khayalan
yang sejak dulu aku lakukan. Khayalan-khayalan yang aku percaya bahwa itu semua
akan menjadi kenyataan.
Bahkan
semua khayalan itu aku jadikan film dalam memoriku.
Sekarang
aku berusaha untuk menghapus itu semua, tapi "dia" masih terus
memaksanya untuk terus dirasakan. Memang pada akhirnya itu semua pudar dalam
otakku tapi masih tetap dan akan selalu aku rasakan.
Sekarang
"dia" sedang membanjiri dirinya sendiri, tumpahan air hujan yang
terus menerus menggenangi. Sabitan sebilah pisau sukses membuat
"dia" sangat terluka. luka itu bahkan masih sangat basah. sangat
tidak boleh untuk disentuh siapapun, tapi sayang seseorang telah menyentuhnya
dan membuatnya semakin sakit, bahkan otak memikirkan kembali.
HATI.
Sekarang ia sudah
keras, ia sudah sangat keras. Hati yang lembut sekarang telah kaku, dan cinta
telah mati. Orang itu telah membuat hati menjadi tanpa rasa, hati sadar bahwa
ia tak perlu menangis saat itu, ia tak perlu teriak saat itu. Dan otak mulai
membuang segala yang terjadi, tapi goresan itu.........
Comments
Post a Comment