Skip to main content

Featured

Kamis Malam Itu,

Kamis malam itu, saat pertama kali kita bertemu,  aku sedang tidak mencari cinta, malah aku sedang melarikan diri darinya ah sudahlah nanti saja, tangisku tak mampu ku bendung, begitu banyak cinta yang ku rasa, sebanyak yang kamu beri padaku nanti kulanjutkan

Hati

 



















 
Dia terlalu 
lembut.
Dia terlalu indah.
Keindahan itu yang membuatnya menghadapi banyak cobaan.
Terkadang dia menangis, tetapi sayang...
Tangisannya tidak akan pernah bisa didengar oleh siapapun.
Kelembutan itu pula yang membuat dia terkadang harus dilatih menjadi lebih keras.
Aku baru sadar, bahwa sebenarnya "dia" itu tidak akan pernah bisa untuk dipaksakan. 



Aku juga baru sadar, bahwa kehidupan orang dewasa ini tidak seperti segumpal khayalan yang sejak dulu aku lakukan. Khayalan-khayalan yang aku percaya bahwa itu semua akan menjadi kenyataan.


Bahkan semua khayalan itu aku jadikan film dalam memoriku.
Sekarang aku berusaha untuk menghapus itu semua, tapi "dia" masih terus memaksanya untuk terus dirasakan. Memang pada akhirnya itu semua pudar dalam otakku tapi masih tetap dan akan selalu aku rasakan. 
Sekarang "dia" sedang membanjiri dirinya sendiri, tumpahan air hujan yang terus menerus menggenangi. Sabitan sebilah pisau sukses membuat "dia" sangat terluka. luka itu bahkan masih sangat basah. sangat tidak boleh untuk disentuh siapapun, tapi sayang seseorang telah menyentuhnya dan membuatnya semakin sakit, bahkan otak memikirkan kembali. 

HATI.
Sekarang ia sudah keras, ia sudah sangat keras. Hati yang lembut sekarang telah kaku, dan cinta telah mati. Orang itu telah membuat hati menjadi tanpa rasa, hati sadar bahwa ia tak perlu menangis saat itu, ia tak perlu teriak saat itu. Dan otak mulai membuang segala yang terjadi, tapi goresan itu.........


 


Comments